Skip to main content

“Gadis Minimarket” milik Sayaka Murata menggelitik realita hidup karyawan modern

Sepertinya ini adalah novel kedua terjemahan dari Bahasa Jepang yang saya nikmati selama setahun terakhir. Jujur saja tidak banyak novel terjemahan yang saya baca, dan kesempatan bertemu dengan karya milik Sayaka Murata juga merupakan pengalaman yang baru.

Novel yang memiliki penamaan judul lain yaitu "Convenience Store Woman" ini memberikan gambaran nyata suasana hiruk pikuknya minimarket yang ramai ketika kita membaca barisan-barisan kalimat yang ditulis oleh Sayaka Murata. Kalian yang sering pergi membeli minuman kaleng dingin atau sekadar snack ringan di Indomaret atau Alfamart dan minimarket sejenisnya pasti seperti langsung membayangkan kondisi di kenyataan dengan apa yang diilustrasikan oleh Sayaka dalam buku ini.

Entahlah, apakah karena ini merupakan novel terjemahan atau memang inilah gaya bahasa Sayaka yang cukup unik dan menakjubkan. Label "menakjubkan" yang saya sebutkan tadi sebenarnya adalah karena apa yang tertulis dalam buku ini sepertinya sepersekian dari jumlah halaman merupakan perwakilan dari realita kehidupan saya sebagai salah satu karyawan di era modern ini. Tentu saja ini hanyalah pendapat pribadi saya saja. Wah, kok jadi curhat colongan yaaa 😁

Tokoh utama dalam buku ini bernama Keiko Furukura dan ia telah berusia 36 tahun. Seorang yang memberi label introvert pada dirinya sendiri. Ia digambarkan sebagai seorang pekerja minimarket yang selalu bersikap sempurna dalam menyelesaikan pekerjaannya meskipun telah selama belasan tahun menjadi pekerja paruh waktu di minimarket yang sama sejak ia masih kuliah. Keiko benar-benar akan mengajarkan apa itu sikap konsisten bekerja kepada kita.

Tanpa sepengetahuan orang lain, Keiko sebenarnya diam-diam selalu mencoba sebaik mungkin untuk terlihat seperti orang normal dengan meniru tingkah laku maupun kebiasaan teman dan rekan kerjanya. Sayaka menjabarkan dalam beberapa kalimat tentang bagaimana Keiko akan meng copy - paste apa saja yang dilihatnya dan merasa ia akan menjadi seperti orang normal lainnya dengan melakukan hal yang sama.

Pernah terbayang nggak sih kalau sosok seperti Keiko Furukura ini tanpa sengaja bertemu dengan kita di dunia nyata? Terlepas dari adanya masalah dalam kepribadiannya, salah satu hal yang sejujurnya saya kagumi dari Keiko adalah sikap kerjanya yang profesional.

Novel ini terbilang menjadi bacaan yang cukup ringan dan bisa menemani reading list di akhir pekan.

Selamat berimajinasi dalam ilustrasi Sayaka Murata dalam buku ini ya. Semoga bermanfaat!

Comments

Popular posts from this blog

Novel “Re: “ karya Kang Maman yang Memberi Getaran Tak Biasa

  “Ini gilaaa banget sih.” Setelah merampungkan bab pertama Novel “Re:” yang merupakan salah satu karya Maman Suherman atau lebih kita kenal dengan panggilan Kang Maman yang sangat terkenal, hanya penggalan kalimat itu yang terlintas di pikiran dan dengan santainya kuucapkan sambil terus mengarahkan pandangan ke bab-bab berikutnya di buku ini. Gaya penulisan yang menurutku sangat detail, lugas dan luwes dari sang penulis benar-benar membuat aku menjadi sangat berani untuk terus menerus mencari tahu apa yang sebenarnya ingin beliau sampaikan lewat cerita Re sebagai tokoh utama dari buku ini. Dan sependek pengetahuanku, Novel Re:  diangkat berdasarkan pengalaman pribadi sang penulis yang tak lain adalah Kang Maman. Menurutku, novel Re: memiliki magnet yang kuat dan fenomenal. Penggambaran profil, kejadian, tempat dan penulisan istilah-istilah frontal dan kuanggap vulgar ternyata bisa sebebas dan seringan itu ketika dituliskan dalam buku ini. Sosok Re yang digambarkan ter...

Menjadi dewasa melalui lagu Satu-Satu, sebuah karya musik ber-atmosfir positif dari Idgitaf

Sumber Foto : Akun YouTube Idgitaf Manusia memiliki beragam emosi. Emosi bisa ditunjukkan oleh perasaan senang, bingung, sedih, marah, sampai rasa cemburu. Katanya semua perasaan tersebut bisa terwakilkan oleh barisan lirik sebuah lagu yang kita dengarkan yang memiliki makna tepat sama persis seperti yang ingin kita gambarkan. Pasti sering kita mendengar istilah banyak kata yang tak terucapkan . Semua orang bisa mengalami beragam emosi seperti yang pernah saya baca di salah satu ulasan Brain Academy ini. Saya termasuk orang yang lebih sering mengekspresikan perasaan senang melalui lontaran candaan yang menghibur lawan bicara. Candaan itu sering juga ditanggapi dengan lanjutan candaan lainnya. Wah, kalau sudah begitu sudah mulai tidak ingat waktu ngobrol deh. Berbeda lagi dengan teman saya yang lainnya yang lebih suka mengekpresikan perasaannya dengan mendengarkan lagu di YouTube yang mendukung perasaannya saat itu. Apalagi sekarang algoritma pilihan lagu di YouTube sangat pandai m...